Andalan
Diposkan pada Puisi

Ku Kalahkan Bulan

Pagi ini aku mengalahkan nyayian ayam. Pagi ini aku mengalahkan datangnya matahari.
Diiringi belaian dingin udara di kulitku, Aku mulai menulis. Apa yang terkubur dalam. Sangat dalam ku gali lagi dan mulai kuutarakan. Sekata, dua kata, hingga puluhan kata telah antri mendapatkan giliran “mejeng” di kertas putihku. Nyanyian- nyanyian cinta kuutarakan dengan indah dan merdu.
Kali pertama dalam hidupku. Tapi entahlah, karena bukanlah akal yang menuntunku.
Sang fajar mulai datang, dan ayam mulai bernyayi riang. Tiba saatnya, puisi ini terbang menuju sang pemilik hati penulisnya. Baiklah, sekarang hatiku kuhadiahkan kepada sang pujaan hati. Sekarang, aku menunggu hatiku. Mungkin ia masih terbang, atau Mungkin jatuh sebelum sampai. Bahkan mungkin berakhir di pembuangan. Cinta memang harus berani, Aku sudah berani memulainya. Sesuatu yang sudah dimulai seharusnya berakhir. Yang ini lain. Mungkin angin menghalangi merpati terbang atau merpati tak pernah mau terbang. Malam ini, Seperti bulan yang menunggu matahari, aku menunggu pujaanku. Dan Seperti bulan, Aku tahu ini adalah sebuah kesiaan.
Tapi aku bisa sombong, aku lebih baik daripada bulan. Karena aku membiarkan matahari tahu aku menunggunya.
Jingga

Iklan
Diposkan pada cerpen, Prosa

Sebuah Pasar

Sebuah Pasar

Sekilas berita di tv. Di Kelurahan Brotonegoro, Ponorogo, yang berada pada Provinsi Jawa Timur, terdapat seorang perempuan bernama Mira Susanti. Wanita berumur 29 Tahun ini menjadi terkenal di desa bahkan tv setelah keadaan depresi yang dialaminya. Diberitakan ia tiba-tiba saja dengan penampilan acak-acakan datang ke pasar, ke kerumunan orang-orang dan menglesot ke tanah meminta seorang suami. Lama ia menjerit-jerit, bergulung ke kanan lalu menjerit, bergulung ke kiri lalu menjerit lagi. Seperti itu hingga seorang polisi datang dan hanya clingukan tak faham atas perilaku aneh wanita tersebut. Kedatangan polisi itu disusul seorang wartawan pada salah satu stasiun televisi swasta yang sangat antusias mengabadikan momen tersebut.
Usut diusut wanita tersbut lelah menjadi bahan perguncingan warga. Adat desa membiasakan perempuan menikah sebelum usianya bertambah dan tambah tua. Ia menjadi korban tradisi masyarakat di desanya dan pada akhirnya menjadi depresi.
Dengan mengerikan wartawan itu menayangkan kejadian Mira di tv.
Lalu pada akhirnya kakaknya datang, mengangkat dan mengendong adiknya pulang ke rumah.
Untuk semua kejadian tersebut, siapakah yang salah?
Salah satu kisah sebuah wanita, yang mungkin dianggap tak berpendidikan.
Inilah salah satu keprihatinan R.A Kartini. Jika saja ia lebih berpendidikan, ia tak akan menjadi topik hangat yang sebenarnya tak pantas dibahas.
Terbesit Kartini yang telah gugur dalam pertempurannya dengan gemilang dalam benakku. Aku ingin ia, yang lebih mampu daripada aku untuk membantu ibu dan anaknya tersebut.
‘’Bisakah kau tuliskan surat-surat untuk sahabatmu di Eropa tentang perempuan bernama Mira Susanti dengan kisahnya. Ajarkanlah ia beberapa ilmu hingga terselamatkanlah hidupnya .’’
lalu
‘’Bisakah kau menyelamatkanya seperti keinginanmu pada semua wanita?’’
Masukilah jiwa-jiwa wanita sekali lagi.
**
Aku menjadi penasaran dengan keadaan sebuah pasar setelah melihat berita di televisi. Langkah-langkah kakiku mendatangi sebuah pasar. Biasa saja. Semua orang beraktivitas secara normal, saat itu sangat ramai dengan orang-orang yang sibuk dengan urusan masing-masing.
Debu yang nyenyak terpaksa melonjat dari lantai-lantai dingin yang sebelumnya tak berpenghuni di malam hari. Mereka bangkit oleh tangan-tangan yang kurus hingga urat tak malu lagi menampakkan diri, tak cantik tapi baik. Tangan itu kuat dan berharga dunia. Pasar dengan hinggar binggarnya, kususuri jalanan kering penuh sesak, lorong dan sempit. Berjejer-jejer sosok tubuh tua dan renta.
Sesosok tubuh tua nan renta itu berada di dalamnya. Meski suara mereka tertutup canda tawa anak-anak, sempritan juru parkir, serta dentuman barang-barang pasar yang baru datang di pagi hari.
Ketika itu salah satu diantara mereka tersenyum lalu aku melangkahkan kaki lebih dekat kearahnya. Tiba-tiba aku masuk ke dalam matanya, melesap melalui selaput-selaput syaraf tipis dan menyelam ke dalam palung jiwanya. Begitu jernih hingga aku lupa aku sedang menyelam di dalamnya. Aku tahu.
Ia bangun dan merasakan pegal-pegal terlebih dulu pada tulang-tulangnya hingga tiba-tiba aroma kulit yang biasa dilumuri minyak gosok mulai wira-wiri mengikuti tulang-tulang, tubuh, renta, tua, dan mau mati. Bau-bau nafas yang menusuk yang seakan habis masanya begitu tersenggal-senggal. Merasuk ke hidung-hidung ternak, ayam. Bau-bau itu membangunkan ternak, membangunkan ayam dan membuat mereka bernyanyi bergantian.
Kuasa kata-kata mereka seakan doa-doa yang sengaja mereka tujukan untuk tulang-tulang, tubuh, renta, tua, dan mau mati tersebut. Dan hal itu pastilah benar karena burung ikut bersenandung mengiringi, membalas untaian misteri yang sengaja mereka ciptakan kepadaku.
Aku yakin bau-bau tubuh tua renta tersebut sangatlah mencuri perhatian angin hingga ia tak segan mengambil bau-bau tersebut, menjadikannya miliknya, dan menyebarkannya seakan ia tak bersalah atas hal tersebut.
Hal ini sungguh luar biasa, ketika rambut dan kulit tak lagi bisa merayu mata-mata, karena mereka telah berkhianat terhadap tubuh-tubuh cantiknya. Tetapi mereka tetap sama. Ia memelihara anak-anak dalam tubuh laki-laki dewasa bersama cahaya-cahaya kecil bagi hidupnya (buah hati mereka).
Setelah semalaman sengaja menguras luh dalam keheningan malam yang benar nyenyat sunyinya. Luh itu dikuras hingga benar-benar habis dan hanya akan ada secercah senyum di pagi ketika orang-orang yang berarti hidupnya memandang tepat di mukanya. Selalu seperti itu. Ia selalu memikirkan orang-orang pengisi hatinya. Hingga hatinya sangat penuh dan tak ada lagi tersisa untuk dirinya sendiri.
Setelah semua selesai, ia mengangkat barang-barangnya yang akan dijual ke pasar ke pundaknya lalu berangkat ke pasar. Menyebar tikar kusam yang akan segera berakhir di pembuangan. Duduk bersila, hingga akhirnya memandang orang-orang yang datang aku salah satunya, lalu mulai menawarkan barang-barang termasuk harga dirinya.
Hal ini benar mengusik hati dan pikiranku. Aku seorang remaja yang hanya berbicara omong kosong mengenai cinta pada sajak-sajakku yang sebenarnya garing. Lebih-lebih kubenci lagi ketika otakku mulai berceloteh tak pantas mengenai sosok tua dan renta tadi.
‘’Bukankah hidup telah ditentukan oleh yang diatas? Lantas itu adalah takdirnya menjadi tua renta dan menderita. Apa kau ingin menyalahkan kehidupan? Siapa yang ingin kausalahkan?’’ otakku berceloteh panjang yang kujawab singkat.
‘’Ini salahku.’’
Lalu aku keluar dari matanya. Matanya tiba-tiba kosong setelah beberapa saat. Ia membangunkan anak-anak yang ada dalam dirinya dan mulai bermain playon*. (*Sebuah permainan anak-anak. Mereka akan berlari kesana-kemari dengan gembira). Itu adalah hiburannya. Begitu menyenangkan dan membuat candu. Menurutku kenangan seperti itu akan membuatnya tetap hidup. Menurutku kenangan seperti itu akan membuatnya bernapas.
Karena benar saja, anak-anaknya sedang bermain playon di sampingnya sekarang. Persis seperti dulu saat ibunya berdagang di pasar dan ia bermain disampingnya. Terbesit Kartini dalam benakku. Aku ingin ia, yang lebih mampu daripada aku untuk membantu ibu dan anaknya tersebut.
‘’Akankah hidup mereka akan seperti itu pada generasi, generasi seterusnya dari mereka?’’
Bisakah kau tuliskan surat-surat untuk sahabatmu di Eropa tentang ibu-ibu yang berjejer di pasar pagi ini. Ajarkanlah anak-anak mereka ilmu yang bermanfaat hingga tak terulang kehidupan pahit mereka. Kehidupan yang bahagia dalam kegetiran.
‘’Bisakah kau menyelamatkan mereka seperti keinginanmu pada semua wanita?’’
Kembali aku masuk ke dalam otaknya dan kutemukan betapa keras ia berfikir.
Hari ini ia belum mendapatkan pembeli yang dengan baik hati menukarkan lembaran uang mereka untuk barang-barangnya. Ia memikirkan rumahnya. Suami yang tak bisa berkegiatan jika bukan tidur dengan sangat tidak nyenyak karena tumor yang berupa gondok mengganjal pada lehernya, anak-anaknya yang nanti akan lelah bermain playon dan merasakan kegelian pada perut-perut mereka yang tipis. Belum lagi lapar yang sedang menyerang perutnya karena ia lupa kemarin ia belum sempat makan. Otakku pun ikut berfikir tak apalah aku tak jajan hari ini. Aku akan membeli satu barang wanita itu.
Hingga pada akhirnya ketika pulang, sosok tua nan renta tersebut memberikan makanan yang hanya satu dan bukan dua. Ia mengambil piring dan membagi makanannya menjadi dua. Ia berikan kepada tubuh yang berada di kasur serta tubuh-tubuh mungil yang kelihatan tak apa walau tak makan dua hari pun. Ia melupakan dirinya lagi. Dan akhirnya dua hari ia tak makan. Ia mencoba melupakan laparnya dengan membuat ijuk. Seperti kebiasaannya. Karena ijuk itulah yang nanti akan ditawarkannya ke pasar.
Sesuatu dalam bayangannya, ia akan hidup di atas permadani mewah, dimana ia menjadi ratu dan suaminya menjadi seorang raja lalu anak-anaknya menjadi seorang putri yang hidup tak berkekurangan sedikitpun. Meskipun ia sadar tak akan ada keajaiban sehebat itu.
Langkahku kulanjutkan keluar dari pasar, kulanjutkan menyusuri puluhan wanita-wanita hebat yang berjejeran. Seiring langkahku semakin habis pula jejeran-jejeran wanita dan kuteruskan memasuki lorong-lorong sempit gang, berjalan memasuki gerbang sekolah. Kali ini aku belajar. Seperti dimasuki roh Kartini saja.
**
Aku duduk di sebuah ruang penuh anak-anak, cucu-cucu ibu-ibu pasar saat itu, salah satunya. Atau mungkin anak-anak dari wanita-wanita perkasa lainnya. Satu anak membacakan puisinya di depan dengan judul Pendidik Negeri.

Jika matahari berhenti menyinari, tak kan ada pagi
Tak kan ada nyayian ayam lagi
Jadilah buta negeri ini
Jadilah tuli negeri ini
Jika bulan tak lagi datang, tak kan ada yang namanya malam
Tanpa malam, tak kan terlihat pula bintang bintang cantik di langit
Bagaimana bisa sebuah negeri tanpa malam
Jadilah hampa negeri ini
Untuk semua pendidik di negeri ini, tetaplah ada karena kaulah jantung negeri ini
Tanpamu kami semua hanya sebuah raga yang mati
Aku mencintaimu guru kami

Diakhiri dengan tepuk tangan.
Pertama kalinya dalam hidup aku merasa seberharga ini. Perasaan yang hebat. Kembali ku pada mimpi-mimpiku. Kembali ku pada kenangan pasar 10 tahun yang lalu. Perasaan luar biasa hingga air mata tak sadar mengalir. Anak-anak inilah impian-impian wanita tua nan renta itu. Anak-anak inilah wujud jiwa mereka. Anak-anak inilah yang setidaknya berkemungkinan kecil duduk pada tikar lusuh yang berjejer di plataran pasar. Lagi.

Diposkan pada Puisi

Kekasihku

Kekasihku tak pernah bosan menyimpan kata cinta untuk didihkan kepada otaknya yang sejatinya kata itu untukku. Mengertilah, mengatakan cinta dalam diam kebahagiaan merupakan kelalaian yang akan membunuhmu.
Kekasihku bangga berteman angin, berkunjung dan berlalu adalah dua hal paling penting dalam kisah cinta menurutnya. Sebenarnya, Ia terus mencoba pergi tetapi ia selalu saja lupa membawa hati sehingga ia kembali.
Kekasihku mengatakan inisial di surat dalam sebuah botol ialah takdir yang merangkak mendatangi dirinya Ia tuli lalu buta dan masih saja menganggap takdir memiliki kaki hingga ia mengatakan kepadaku untuk menjauh.
Kekasihku memberi mata bibir. Hingga kekasihku adalah matanya. Ia serupa cermin dan lebih suka jujur kepadaku.

Jingga

Diposkan pada Puisi

Pekak

Bibirnya hanya bersenandung omong kosong kepada hujan

Yang sayang hanya lewat dari akar ke pohon-pohon bisu (mereka itu primiti\f, hanya mengerti perihal makan dan membiak)

Sekadar basa-basi yang sama sekali berbeda dengan realitas fisik

Mentalitas loyo dan memuakkan

Dan aku tepat berada di dalamnya

Ketika demokrasi hanya diberikan kepada burung-burung beo, peniru akut

Pada akhirnya, hal-hal memuakkan memunculkan  sindrom atas diriku

Hidup dan kehidupan di sekitar begitu kotor dan kelamaan membusuk

Orang begitu menjijikkan berlagak mimimpin di istana

Mereka masuk istana melalui lubang penuh tai dan darah nifas

Begitu jorok dan baunya menyebar kemana-mana

Sayangnya sulit membersihkan bau-bau tersebut, susah

Karena nampaknyamanusia-manusia konyol telah menjadikan hal tersebut bagian dari candu

 

JINGGA

 

Diposkan pada Puisi

Minor

Ketika suatu hari jingga menyilakan merah, kuning, ungu, dan satu per satu warna lainnya

Mataku menangkapnya

Orang-orang-orang-orang-…

Tubuh mereka telanjang tanpa busana

Panas dengan bebas menari di atas tubuh bugil mereka

Lalu membalutnya

Karena cermin sedang bersetubuh dengan kabut lalu melarang orang berkunjung, orang menunjukkan badan bugil tanpa mengerti ada nanah di pusarnya

Perlahan ku mengerti

Hanya aku yang berbaju di sini

Aku menjadi bingung

Perlahan ku mengerti

Aku harus menyingkir, ketepian pantai tanpa air

Aku perlu pergi, atau mungkin

Mati

 

Jingga

Diposkan pada cerpen

Tanah Air

Cerpen Terbaik Kompas 2016

Cerpen Koran Minggu

Cerpen Martin Aleida (Kompas, 19 Juni 2016)

Tanah Air ilustrasi Polenk Rediasa Tanah Air ilustrasi Polenk Rediasa

Hatiku teduh. Dia kelihatan tenang. Cuma matanya saja yang terus memandangiku dengan ganjil. Seakan aku ini siapa, bukan istrinya. Tadi, sambil duduk berdampingan menjuntaikan kaki di tubir tempat tidur, perlahan kupotongi kuku-kukunya yang panjang, hitam berdaki. Dari tangan sampai kaki. Gemertak pemotong kuku meningkahi angin pagi yang deras dan dingin memukuli jendela.

Tanpa menatapku barang sekejap pun, seperti berbisik pada dedaunan di luar, lagi-lagi dia mengulangi igauan yang saban pagi, menjelang matahari terbit, diucapkannya seperti merapal mantra. Atau pesan yang aku tak tahu kepada siapa. “Setengah jam lagi. Begitu matahari terbit, mereka akan datang membebaskan kita,” desisnya dengan mata yang tetap saja liar, dan sepertinya aku entah di mana, tidak berada di seberang bahunya. Siapa yang akan membebaskannya? Aku tak tahu. Dan aku tak pernah mau bertanya. Tetapi, yang jelas janji akan pembebasan selepas subuh itulah…

Lihat pos aslinya 1.645 kata lagi