Andalan
Diposkan pada Puisi

Ku Kalahkan Bulan

Pagi ini aku mengalahkan nyayian ayam. Pagi ini aku mengalahkan datangnya matahari.
Diiringi belaian dingin udara di kulitku, Aku mulai menulis. Apa yang terkubur dalam. Sangat dalam ku gali lagi dan mulai kuutarakan. Sekata, dua kata, hingga puluhan kata telah antri mendapatkan giliran “mejeng” di kertas putihku. Nyanyian- nyanyian cinta kuutarakan dengan indah dan merdu.
Kali pertama dalam hidupku. Tapi entahlah, karena bukanlah akal yang menuntunku.
Sang fajar mulai datang, dan ayam mulai bernyayi riang. Tiba saatnya, puisi ini terbang menuju sang pemilik hati penulisnya. Baiklah, sekarang hatiku kuhadiahkan kepada sang pujaan hati. Sekarang, aku menunggu hatiku. Mungkin ia masih terbang, atau Mungkin jatuh sebelum sampai. Bahkan mungkin berakhir di pembuangan. Cinta memang harus berani, Aku sudah berani memulainya. Sesuatu yang sudah dimulai seharusnya berakhir. Yang ini lain. Mungkin angin menghalangi merpati terbang atau merpati tak pernah mau terbang. Malam ini, Seperti bulan yang menunggu matahari, aku menunggu pujaanku. Dan Seperti bulan, Aku tahu ini adalah sebuah kesiaan.
Tapi aku bisa sombong, aku lebih baik daripada bulan. Karena aku membiarkan matahari tahu aku menunggunya.
Jingga

Diposkan pada Puisi

Minor

Ketika suatu hari jingga menyilakan merah, kuning, ungu, dan satu per satu warna lainnya

Mataku menangkapnya

Orang-orang-orang-orang-…

Tubuh mereka telanjang tanpa busana

Panas dengan bebas menari di atas tubuh bugil mereka

Lalu membalutnya

Karena cermin sedang bersetubuh dengan kabut lalu melarang orang berkunjung, orang menunjukkan badan bugil tanpa mengerti ada nanah di pusarnya

Perlahan ku mengerti

Hanya aku yang berbaju di sini

Aku menjadi bingung

Perlahan ku mengerti

Aku harus menyingkir, ketepian pantai tanpa air

Aku perlu pergi, atau mungkin

Mati

 

Jingga

Diposkan pada cerpen

Tanah Air

Cerpen Terbaik Kompas 2016

Cerpen Koran Minggu

Cerpen Martin Aleida (Kompas, 19 Juni 2016)

Tanah Air ilustrasi Polenk Rediasa Tanah Air ilustrasi Polenk Rediasa

Hatiku teduh. Dia kelihatan tenang. Cuma matanya saja yang terus memandangiku dengan ganjil. Seakan aku ini siapa, bukan istrinya. Tadi, sambil duduk berdampingan menjuntaikan kaki di tubir tempat tidur, perlahan kupotongi kuku-kukunya yang panjang, hitam berdaki. Dari tangan sampai kaki. Gemertak pemotong kuku meningkahi angin pagi yang deras dan dingin memukuli jendela.

Tanpa menatapku barang sekejap pun, seperti berbisik pada dedaunan di luar, lagi-lagi dia mengulangi igauan yang saban pagi, menjelang matahari terbit, diucapkannya seperti merapal mantra. Atau pesan yang aku tak tahu kepada siapa. “Setengah jam lagi. Begitu matahari terbit, mereka akan datang membebaskan kita,” desisnya dengan mata yang tetap saja liar, dan sepertinya aku entah di mana, tidak berada di seberang bahunya. Siapa yang akan membebaskannya? Aku tak tahu. Dan aku tak pernah mau bertanya. Tetapi, yang jelas janji akan pembebasan selepas subuh itulah…

Lihat pos aslinya 1.645 kata lagi

Diposkan pada Prosa, Puisi, Sajak Sajak

Surat untuk Pak Karno tentang Liburan Saya di Suradadi

Pak Karno
Disini begitu menghawatirkan
Menakutkan sekaligus menyedihkan
Ketika tabir membuka borok sedang para tabib lupa hanya mengubur ramuan di otak berlendir mereka msing-masing
Tak ada yang menolong
Para budak pikiran lebih memilih apatis tanpa mengubris
Pak,
Jangan anda katakan saya tak pernah mencoba
Tetapi maaf karena kesal di anggap angin lalu saya memilih menjadi patung diantara anak-anak yang menanti penuh harap datangnya sayap tuk membawa mereka terbang
Pak, pemuda yang kau impikan dulu tak kunjung datang
Tak pernah mau datang
Sekarang musimnya individualis Pak
Tak macam dulu
Rumah-rumah di sini semakin megah tetapi anak-anak tak pernah paham bahasa inggrisnya rumah
Anak-anak melihat buku ulat bulu yang menggeliat pada daun
Tak pernah mereka sentuh
Takut. Jijik. Geli
Para orang tua semakin aneh saja
Menumpuk mesin di antara dinding-dinding mereka lalu mulai meronce gelang dengan tangan dan kaki
Tanpa sadar mereka hanya menciptakan lonceng pemanggil kerumunan anjing
Begitu semarak, tetapi getir
Sebuah budaya yang tak berdaya
Makan, berkasih, beranak pinak
Mereka lelah tanpa mengisi otak mereka
Hikmah angin akan membawa sajakku ini ke telinga anda, Pak

Diposkan pada Prosa, Puisi

Kereta

Tempat orang-orang membuat kenangan mengenai koran-koran yang berserakan,

Tukang-tukang kopi dan jajan,

Wira-wiri pedagang makanan khas penjajahan,

Ramah oang menawarkan kebisingan, hingga pengepul koran.
Sayang
Adik di samping tempat dudukku ini hanya mengerti betapa hening kereta dengan mesin pada masing-masing tangan.

Diposkan pada Resensi

Ulasan Cerpen Cermina Burana dalam Kumpulan Cerpen ”Dunia Sukab” Karya Seno Gumira Ajidarma

Judul               : Cermina Burana

Penggarang     : Seno Gumira Ajidarma

Penerbit           : Noura Books, PT Mizan Publika, Jakarta

Tahun Terbit    : Cetakan ke-1, Agustus 2016

Tokoh              : Dalam Buku Dunia Sukab (Semua Cerpen)

 

–          Penari dari Kutai

1.      Barjo

2.      Retno

3.      Balu

4.      Dll

 

 

–          HooiyyAAAiyyOOOi

1.      Mintuk

2.      Ngatiyo

3.      Warno

4.      Dll

 

–          Carmina Burana

1.      Sarman

2.      Sukab

3.      Somplak

4.      Masyarakat

5.      Dll

 

–          The Pinocchio Disease

1.      Badu

2.      Dll

 

–          Sukab dan Sepatu

1.      Upik

2.      Tukang cerita

3.      Sukab

4.      Maya

5.      Dll

 

–          Banjir

1.      Pak Prawiro

2.      Dll

 

–          Khuldi

1.      Sukab

2.      Dll

 

–          Sita dan Suaminya

1.      Sita

2.      Suaminya

3.      Anaknya

4.      Dll

 

–          Pengadilan Sukab

1.      Sukab bin Duryat

2.      Orang yang berkerja pada lembaga

3.      Bantuan Hukum Kerajaan Amarta

4.      Dll

 

–          Wati Memakai Sepatu Tinggi

1.      Wati

2.      Dll

 

–          Potret Keluarga

1.      Marni

2.      Budi

3.      Ayah

4.      Ibu

5.      Dll

 

–          Telepon Dari Aceh

1.      Koruptor

2.      Istri

3.      Anak-anaknya

4.      Cucunya

5.      Dll

 

–          Selamat Malam, Duhai Kekasih

1.      Tumirah

2.      Penjual Bunga

3.      Istri penjual bunga

4.      Dll

 

–          Jakarta 14 Februari 2039

1.      Anak hasil perkosaan

2.      Ibunya

3.      Ayahnya

 

–          Manusia Api

1.      Pemain Gaple

2.      Satpam

3.      Pak RT

4.      Dll

 

–          Perempuan Preman

1.      Perempuan Preman

2.      Si Tangan Cepat

 

 

Carmina Burana adalah salah satu cerpen dalam kumpulan cerpen Seno Gumira dalam bukunya Dunia Sukab. Carmina Burana adalah sebuah cerpen kritik sosial yang ditujukan untuk Indonesia pada umumnya. Menceritakan tiga orang yang sedang kampanye. Kampanye hari pertama adalah kampanyenya Sarman. Berkoar-koarlah Sarman dengan janji-janji politiknya. Hari kedua adlah kampanyenya Sukab. Di luar dugaan, Sukab juga mengkoar-koarkan hal yang sama. Dan kampanye hari terakhir ialah Somplak. Sudah dapat di duga, Somplak juga mengucapkan janji politik yang sama. Di sini dimaksudkan, rakyat yang disuruh memilih pemimpin yang paling baik dan di larang menjadi rakyat yang pasif bingung sendiri karena sebenarnya tidak ada pilihan. Calon-calon pemimpin mereka sama saja. Semua hanya memberikan janji tanpa ada bukti yang nyata. Cerpen yang bagus dan sangat mengena di hati. Ini menghapus anggapan bahwa Golput itu tidak benar. Setelah membaca ini, saya merasa tidak berdosa jika nanti saya Golput saat pencoblosan wakil rakyat.