Diposkan pada Puisi

Patah; Hati;

Hati; warung yang kuulangi, untuk datang dan mengingatmu. Untuk pulang dan membuangmu. Bisakah kamu ke sini setelah mati?

Patah; cinta mati? Itu peti kekasihku. Kamu memintaku datang ke pemakamanku sendiri. Ha? Aku menertawai lelucon ini. Kesinilah jika ingin mati. Sttt, berhenti! Ku dengar ‘krekkk’ dari bilik kiri.

 

 

Jingga

 

Diposkan pada Resensi

Membaca Bukan Pasar Malam Pram

Belakangan ini segala sesuatu menjadi semakin ruwet saja. Ingin sekali menyalahkan tetapi tidak mengerti harus menyalahkan siapa. Di tengah wabah virus, keserakahan manusia, dan diri saya sendiri yang mungkin akan bertindak sama seperti lainnya. Saya sebenarnya bukanlah warga patriotis yang berlebihan memikirkan masalah negera. Aneh, akhir-akhir ini keapatisan saya kadang memudar. Sekadar berita kecil seperti penetapan UU pelecehan presiden, berita-berita terkait pembebasan koruptor di tengah wabah, DPR yang neko-neko membuat saya risih. Entahlah saya juga tidak bisa melakukan apa-apa meskipun menyatakan sikap tidak setuju pada pemerintah mengenai hal ini dan pada akhirnya hanya berakhir memaklumi. Setidaknya saya mempertanggungjwabkan sendiri pilihan saya di masa lalu. Saya hentikan ocehan saya di sini. Sebenarnya saya hanya ingin mengutarakan pendapat saya mengenai Bukan Pasar Malam milik Pram.

Lanjutkan membaca “Membaca Bukan Pasar Malam Pram”

Diposkan pada Curahan Hati, Puisi

Haruskah Aku Kembali atau Kamu Tidak Pernah Benar-Benar Hadir Saat Itu?

Aku bosan memandangimu berlarian di emperan toko

Itu.

Melihatku duduk,

Kamu biasa berhenti dan bernyanyi.

Ini sudah menjadi

Kebiasaan.

Dalam hidup ataupun jalanan yang samasama

Kemacetan.

Aku bertaruh

Banyak dan Kalah.

Kamu berkata merindukanku sambil menjejali es krim

Kekasihmu.

Lanjutkan membaca “Haruskah Aku Kembali atau Kamu Tidak Pernah Benar-Benar Hadir Saat Itu?”

Diposkan pada Curahan Hati, Puisi

Bianglala

Bianglala Ini berputar-putar. Akankah baik jika tidak membuka mata?

“Ayo berhenti,” katanya.

Segala jenis kesenangan, potongan harga cukup murah, sayang kamu buta.

Segala jenis kebingungan, aku ingin ini rumah. Tak apa. Aku suka.

Kamu bergegas. Seperti biasa pura-pura. Setelah kamu pulang, Bianglala kembali nyala.

Bianglala ini berputar-putar. Aku sekarang paham, tak baik untuk membuka mata.

Jingga

Lanjutkan membaca “Bianglala”

Diposkan pada Resensi

Menonton GUNDALA

Gembar-gembor ajakan menonton Gundala mempengaruhi saya pada akhirnya. Sempat ragu setelah sampai bioskop, kok genrenya remaja? Setelah sedikit berfikir, hehe. Akhirnya saya membeli tiket dan menuju teater. Benar saja, sampai di dalam penuh suara anak-anak yang membuat saya dan teman saya “ngakak”. Sepertinya saya dan teman salah memilih film.

Pendapat saya mulai berubah setelah film diputar, saya kagum mengenai akting, tata kamera, efek, tata suara, dan latar dari film. Ini bisa saya bilang sutradaranya NIAT. Malahan saya berfikir untuk remaja bukankah film ini berlebihan? Terlalu banyak adegan kekerasan yang kurang mendidik, bukan sih? Tapi bintang 4 untuk sutradaranya, Bapak Joko Anwar 🖤. Singkat cerita, film ini mengisahkan seorang anak dengan background maksud saya latar belakang ekonomi orang tua pas-pasan. Ayahnya adalah seorang pembela keadilan walaupun hidupnya saja susah. Setelah kematian ayahnya, anak ini ditinggal ibunya, dan harus hidup sendiri tanpa uang dan keluarga. Lalu apa hubungannya dengan Gundala?

Jadi, anak tadi memiliki keistimewaan disukai petir. Maka, setiap ada petir ia akan berlari mencari tempat persembunyian. Sesuai temanya, ini memang film kepahlawanan fiksi. Anak itu akhirnya menjadi pahlawan layaknya Superman tapi versi Indonesia. Ia harus melawan para penjahat guna melindungi rakyat.

Saya sendiri masih jatuh cinta dengan tokoh Ghani karena kemampuan bersastranya. Kutipan favorit saya sebagai berikut.

    “Museum lebih jujur daripada buku-buku.”

Konon, film ini merupakan jalur kebangkitan film-film fantasi Indonesia. Saya doakan film Indonesia menjadi lebih dan lebih lagi seiring waktu. Pesan terakhir di tulisan ini, jangan lupa menonton Gundala.

 

Diposkan pada Puisi

Aku Pulang

Hari ini aku pulang. Berharap kereta yang kutumpangi ini lebih cepat hilang.

Suatu ketika, kamu mengikutiku pulang, tetapi kamu hilang.

Jatuh hati, patah hati.

Aku berjalan di sebuah taman, memetik yang menurutku indah.

 

 

Ambarawa, 25 Agustus 2019

Diposkan pada Puisi

Mungkin Ia Gila

Hari ini,

Balerina menari-nari.

Tubuhnya,

Meliuk, jalan menuju setan.

“Ada apa dengan mata kananmu?” Kataku pelan.

Ia berubah gula.

Apa mungkin ia gila?

 

Jingga, 30 Juli 2019