Andalan
Diposkan pada Puisi

Ku Kalahkan Bulan

Pagi ini aku mengalahkan nyayian ayam. Pagi ini aku mengalahkan datangnya matahari.
Diiringi belaian dingin udara di kulitku, Aku mulai menulis. Apa yang terkubur dalam. Sangat dalam ku gali lagi dan mulai kuutarakan. Sekata, dua kata, hingga puluhan kata telah antri mendapatkan giliran “mejeng” di kertas putihku. Nyanyian- nyanyian cinta kuutarakan dengan indah dan merdu.
Kali pertama dalam hidupku. Tapi entahlah, karena bukanlah akal yang menuntunku.
Sang fajar mulai datang, dan ayam mulai bernyayi riang. Tiba saatnya, puisi ini terbang menuju sang pemilik hati penulisnya. Baiklah, sekarang hatiku kuhadiahkan kepada sang pujaan hati. Sekarang, aku menunggu hatiku. Mungkin ia masih terbang, atau Mungkin jatuh sebelum sampai. Bahkan mungkin berakhir di pembuangan. Cinta memang harus berani, Aku sudah berani memulainya. Sesuatu yang sudah dimulai seharusnya berakhir. Yang ini lain. Mungkin angin menghalangi merpati terbang atau merpati tak pernah mau terbang. Malam ini, Seperti bulan yang menunggu matahari, aku menunggu pujaanku. Dan Seperti bulan, Aku tahu ini adalah sebuah kesiaan.
Tapi aku bisa sombong, aku lebih baik daripada bulan. Karena aku membiarkan matahari tahu aku menunggunya.
Jingga

Iklan
Diposkan pada Puisi

Aku “Bercandaan”

kamu begitu berbakat lari meski lupa aku punya kaki dan setidaknya mengikuti.

Ini tidak mau berhenti, semua sakit jiwa padaku. Bagaimana secepatnya pulang atau hilang?

Temanku mengatakan pergi, hantu tak bisa untukku. Mereka benar tapi aku tak menyiapkan rute lagipula aku buta kanankiri. Aku masuk penjara dan diam di sana.

Kamu mengakui kejahatan, mengatakan aku bercandaan, pasar malam, hiburan, murah lalu jalang.

Berlebihan.

Jingga

Diposkan pada Puisi, Sajak Sajak

Ahmad #2

Kamu dan kekasihmu sedang aku musiknya, berisik pada diriku, mejariasku, fotofotomu

Satu, aku menyulam kelambu
Satu lainnya, aku kukup sebab hati takut
Setelah satu dan satu lainnya, aku bertanya

Berpura-pura begitu lelah berdiri lalu pergi tetapi tak pernah sadar (kembali).

Aku sadar kamu menyuruhku dulu tapi malang belum mengetuk pintu.

Kamu tahu debu dan rambut rontok cemburu karena aku lebih sering mengunjungimu.

Jingga

Diposkan pada Curahan Hati, Puisi

Ahmad #1

DSC_0356

Aku menyerah pada matamu, lalu aku pulang,
nyalakan dupa lakukan puja.
Aku menyerah pada pergi untuk menikmati gesekan daging kapalan, merabarabakepala tangan, juga paha

ah. SETAN.

Pada ASU kesukaanmu, pada KAMU kesukaanku, pada AKU yang asumu.

Aku menyerah mengutukmu. Lalu aku merajut hingga makin kusut bolah dan rambutku. Ini belum termasuk sumpek, mumet, cupet.

Ah,
Lelakiku CURUT RUWET

Diposkan pada Tak Berkategori

Aminah: Sebuah Puisi yang Lahir Dari Apresiasi Cerpen Berjudul Perempuan Sinting di Dapur

Aminah sering kali berkata mengapai bulan, merelakan kenikmatan seorang wanita menjadi idaman.

Wanita memang selalu dipuja. Menjadikan mereka lupa. Tak miliki harga diri. Malu menjadi diri sendiri tanpa harus berbagi, mengasihi, lalu dihabisi tenaga akal, pikir. Tak lupa berakhir.

Aminah senang menikahi akal sehatnya. Menurutnya wanita ataupun pria harus menemukan cara untuk makan masingmasing. Karena mereka adalah dua. Karena mereka bukanlah saru.

Wanita bukan pemintaminta dijalanan yang mengonggong bagai anjing meminta makan belas kasihan dari majikan.

Aminah mengguru pada drupadi. lelaki tak pernah bisa menghargai. Kebenaran atau kelalaian. Sendiri lama. Hingga pada suatu titik. Lelah lalu mati.

Diposkan pada Puisi

Hanya Sebuah Sajak Mengenai Ibu

Anak-anak menyembunyikan bau busuk tikus pada kolong-kolong kamar tidur. Mereka tak paham bahwa bau busuk tak pernah bisa benar-benar hilang. Mereka tertipu oleh sapu-sapu, kain pel, dan ibu.
Sementara itu para ayah hanya menutup rapat mulut seakan ada lem yang melekat dan berkerak.
Masa kecil perlahan terlupakan. Para anak tumbuh menjadi sosok yang tinggi dan berjenggot. Ibu tak lagi ibu. Kulit dan rambut telah berkhianat atas mereka.

Diposkan pada cerpen, Prosa

Sebuah Pasar

Sebuah Pasar

Sekilas berita di tv. Di Kelurahan Brotonegoro, Ponorogo, yang berada pada Provinsi Jawa Timur, terdapat seorang perempuan bernama Mira Susanti. Wanita berumur 29 Tahun ini menjadi terkenal di desa bahkan tv setelah keadaan depresi yang dialaminya. Diberitakan ia tiba-tiba saja dengan penampilan acak-acakan datang ke pasar, ke kerumunan orang-orang dan menglesot ke tanah meminta seorang suami. Lama ia menjerit-jerit, bergulung ke kanan lalu menjerit, bergulung ke kiri lalu menjerit lagi. Seperti itu hingga seorang polisi datang dan hanya clingukan tak faham atas perilaku aneh wanita tersebut. Kedatangan polisi itu disusul seorang wartawan pada salah satu stasiun televisi swasta yang sangat antusias mengabadikan momen tersebut.
Usut diusut wanita tersbut lelah menjadi bahan perguncingan warga. Adat desa membiasakan perempuan menikah sebelum usianya bertambah dan tambah tua. Ia menjadi korban tradisi masyarakat di desanya dan pada akhirnya menjadi depresi.
Dengan mengerikan wartawan itu menayangkan kejadian Mira di tv.
Lalu pada akhirnya kakaknya datang, mengangkat dan mengendong adiknya pulang ke rumah.
Untuk semua kejadian tersebut, siapakah yang salah?
Salah satu kisah sebuah wanita, yang mungkin dianggap tak berpendidikan.
Inilah salah satu keprihatinan R.A Kartini. Jika saja ia lebih berpendidikan, ia tak akan menjadi topik hangat yang sebenarnya tak pantas dibahas.
Terbesit Kartini yang telah gugur dalam pertempurannya dengan gemilang dalam benakku. Aku ingin ia, yang lebih mampu daripada aku untuk membantu ibu dan anaknya tersebut.
‘’Bisakah kau tuliskan surat-surat untuk sahabatmu di Eropa tentang perempuan bernama Mira Susanti dengan kisahnya. Ajarkanlah ia beberapa ilmu hingga terselamatkanlah hidupnya .’’
lalu
‘’Bisakah kau menyelamatkanya seperti keinginanmu pada semua wanita?’’
Masukilah jiwa-jiwa wanita sekali lagi.
**
Aku menjadi penasaran dengan keadaan sebuah pasar setelah melihat berita di televisi. Langkah-langkah kakiku mendatangi sebuah pasar. Biasa saja. Semua orang beraktivitas secara normal, saat itu sangat ramai dengan orang-orang yang sibuk dengan urusan masing-masing.
Debu yang nyenyak terpaksa melonjat dari lantai-lantai dingin yang sebelumnya tak berpenghuni di malam hari. Mereka bangkit oleh tangan-tangan yang kurus hingga urat tak malu lagi menampakkan diri, tak cantik tapi baik. Tangan itu kuat dan berharga dunia. Pasar dengan hinggar binggarnya, kususuri jalanan kering penuh sesak, lorong dan sempit. Berjejer-jejer sosok tubuh tua dan renta.
Sesosok tubuh tua nan renta itu berada di dalamnya. Meski suara mereka tertutup canda tawa anak-anak, sempritan juru parkir, serta dentuman barang-barang pasar yang baru datang di pagi hari.
Ketika itu salah satu diantara mereka tersenyum lalu aku melangkahkan kaki lebih dekat kearahnya. Tiba-tiba aku masuk ke dalam matanya, melesap melalui selaput-selaput syaraf tipis dan menyelam ke dalam palung jiwanya. Begitu jernih hingga aku lupa aku sedang menyelam di dalamnya. Aku tahu.
Ia bangun dan merasakan pegal-pegal terlebih dulu pada tulang-tulangnya hingga tiba-tiba aroma kulit yang biasa dilumuri minyak gosok mulai wira-wiri mengikuti tulang-tulang, tubuh, renta, tua, dan mau mati. Bau-bau nafas yang menusuk yang seakan habis masanya begitu tersenggal-senggal. Merasuk ke hidung-hidung ternak, ayam. Bau-bau itu membangunkan ternak, membangunkan ayam dan membuat mereka bernyanyi bergantian.
Kuasa kata-kata mereka seakan doa-doa yang sengaja mereka tujukan untuk tulang-tulang, tubuh, renta, tua, dan mau mati tersebut. Dan hal itu pastilah benar karena burung ikut bersenandung mengiringi, membalas untaian misteri yang sengaja mereka ciptakan kepadaku.
Aku yakin bau-bau tubuh tua renta tersebut sangatlah mencuri perhatian angin hingga ia tak segan mengambil bau-bau tersebut, menjadikannya miliknya, dan menyebarkannya seakan ia tak bersalah atas hal tersebut.
Hal ini sungguh luar biasa, ketika rambut dan kulit tak lagi bisa merayu mata-mata, karena mereka telah berkhianat terhadap tubuh-tubuh cantiknya. Tetapi mereka tetap sama. Ia memelihara anak-anak dalam tubuh laki-laki dewasa bersama cahaya-cahaya kecil bagi hidupnya (buah hati mereka).
Setelah semalaman sengaja menguras luh dalam keheningan malam yang benar nyenyat sunyinya. Luh itu dikuras hingga benar-benar habis dan hanya akan ada secercah senyum di pagi ketika orang-orang yang berarti hidupnya memandang tepat di mukanya. Selalu seperti itu. Ia selalu memikirkan orang-orang pengisi hatinya. Hingga hatinya sangat penuh dan tak ada lagi tersisa untuk dirinya sendiri.
Setelah semua selesai, ia mengangkat barang-barangnya yang akan dijual ke pasar ke pundaknya lalu berangkat ke pasar. Menyebar tikar kusam yang akan segera berakhir di pembuangan. Duduk bersila, hingga akhirnya memandang orang-orang yang datang aku salah satunya, lalu mulai menawarkan barang-barang termasuk harga dirinya.
Hal ini benar mengusik hati dan pikiranku. Aku seorang remaja yang hanya berbicara omong kosong mengenai cinta pada sajak-sajakku yang sebenarnya garing. Lebih-lebih kubenci lagi ketika otakku mulai berceloteh tak pantas mengenai sosok tua dan renta tadi.
‘’Bukankah hidup telah ditentukan oleh yang diatas? Lantas itu adalah takdirnya menjadi tua renta dan menderita. Apa kau ingin menyalahkan kehidupan? Siapa yang ingin kausalahkan?’’ otakku berceloteh panjang yang kujawab singkat.
‘’Ini salahku.’’
Lalu aku keluar dari matanya. Matanya tiba-tiba kosong setelah beberapa saat. Ia membangunkan anak-anak yang ada dalam dirinya dan mulai bermain playon*. (*Sebuah permainan anak-anak. Mereka akan berlari kesana-kemari dengan gembira). Itu adalah hiburannya. Begitu menyenangkan dan membuat candu. Menurutku kenangan seperti itu akan membuatnya tetap hidup. Menurutku kenangan seperti itu akan membuatnya bernapas.
Karena benar saja, anak-anaknya sedang bermain playon di sampingnya sekarang. Persis seperti dulu saat ibunya berdagang di pasar dan ia bermain disampingnya. Terbesit Kartini dalam benakku. Aku ingin ia, yang lebih mampu daripada aku untuk membantu ibu dan anaknya tersebut.
‘’Akankah hidup mereka akan seperti itu pada generasi, generasi seterusnya dari mereka?’’
Bisakah kau tuliskan surat-surat untuk sahabatmu di Eropa tentang ibu-ibu yang berjejer di pasar pagi ini. Ajarkanlah anak-anak mereka ilmu yang bermanfaat hingga tak terulang kehidupan pahit mereka. Kehidupan yang bahagia dalam kegetiran.
‘’Bisakah kau menyelamatkan mereka seperti keinginanmu pada semua wanita?’’
Kembali aku masuk ke dalam otaknya dan kutemukan betapa keras ia berfikir.
Hari ini ia belum mendapatkan pembeli yang dengan baik hati menukarkan lembaran uang mereka untuk barang-barangnya. Ia memikirkan rumahnya. Suami yang tak bisa berkegiatan jika bukan tidur dengan sangat tidak nyenyak karena tumor yang berupa gondok mengganjal pada lehernya, anak-anaknya yang nanti akan lelah bermain playon dan merasakan kegelian pada perut-perut mereka yang tipis. Belum lagi lapar yang sedang menyerang perutnya karena ia lupa kemarin ia belum sempat makan. Otakku pun ikut berfikir tak apalah aku tak jajan hari ini. Aku akan membeli satu barang wanita itu.
Hingga pada akhirnya ketika pulang, sosok tua nan renta tersebut memberikan makanan yang hanya satu dan bukan dua. Ia mengambil piring dan membagi makanannya menjadi dua. Ia berikan kepada tubuh yang berada di kasur serta tubuh-tubuh mungil yang kelihatan tak apa walau tak makan dua hari pun. Ia melupakan dirinya lagi. Dan akhirnya dua hari ia tak makan. Ia mencoba melupakan laparnya dengan membuat ijuk. Seperti kebiasaannya. Karena ijuk itulah yang nanti akan ditawarkannya ke pasar.
Sesuatu dalam bayangannya, ia akan hidup di atas permadani mewah, dimana ia menjadi ratu dan suaminya menjadi seorang raja lalu anak-anaknya menjadi seorang putri yang hidup tak berkekurangan sedikitpun. Meskipun ia sadar tak akan ada keajaiban sehebat itu.
Langkahku kulanjutkan keluar dari pasar, kulanjutkan menyusuri puluhan wanita-wanita hebat yang berjejeran. Seiring langkahku semakin habis pula jejeran-jejeran wanita dan kuteruskan memasuki lorong-lorong sempit gang, berjalan memasuki gerbang sekolah. Kali ini aku belajar. Seperti dimasuki roh Kartini saja.
**
Aku duduk di sebuah ruang penuh anak-anak, cucu-cucu ibu-ibu pasar saat itu, salah satunya. Atau mungkin anak-anak dari wanita-wanita perkasa lainnya. Satu anak membacakan puisinya di depan dengan judul Pendidik Negeri.

Jika matahari berhenti menyinari, tak kan ada pagi
Tak kan ada nyayian ayam lagi
Jadilah buta negeri ini
Jadilah tuli negeri ini
Jika bulan tak lagi datang, tak kan ada yang namanya malam
Tanpa malam, tak kan terlihat pula bintang bintang cantik di langit
Bagaimana bisa sebuah negeri tanpa malam
Jadilah hampa negeri ini
Untuk semua pendidik di negeri ini, tetaplah ada karena kaulah jantung negeri ini
Tanpamu kami semua hanya sebuah raga yang mati
Aku mencintaimu guru kami

Diakhiri dengan tepuk tangan.
Pertama kalinya dalam hidup aku merasa seberharga ini. Perasaan yang hebat. Kembali ku pada mimpi-mimpiku. Kembali ku pada kenangan pasar 10 tahun yang lalu. Perasaan luar biasa hingga air mata tak sadar mengalir. Anak-anak inilah impian-impian wanita tua nan renta itu. Anak-anak inilah wujud jiwa mereka. Anak-anak inilah yang setidaknya berkemungkinan kecil duduk pada tikar lusuh yang berjejer di plataran pasar. Lagi.