Andalan
Diposkan pada Puisi

Ku Kalahkan Bulan

Pagi ini aku mengalahkan nyayian ayam. Pagi ini aku mengalahkan datangnya matahari.
Diiringi belaian dingin udara di kulitku, Aku mulai menulis. Apa yang terkubur dalam. Sangat dalam ku gali lagi dan mulai kuutarakan. Sekata, dua kata, hingga puluhan kata telah antri mendapatkan giliran “mejeng” di kertas putihku. Nyanyian- nyanyian cinta kuutarakan dengan indah dan merdu.
Kali pertama dalam hidupku. Tapi entahlah, karena bukanlah akal yang menuntunku.
Sang fajar mulai datang, dan ayam mulai bernyayi riang. Tiba saatnya, puisi ini terbang menuju sang pemilik hati penulisnya. Baiklah, sekarang hatiku kuhadiahkan kepada sang pujaan hati. Sekarang, aku menunggu hatiku. Mungkin ia masih terbang, atau Mungkin jatuh sebelum sampai. Bahkan mungkin berakhir di pembuangan. Cinta memang harus berani, Aku sudah berani memulainya. Sesuatu yang sudah dimulai seharusnya berakhir. Yang ini lain. Mungkin angin menghalangi merpati terbang atau merpati tak pernah mau terbang. Malam ini, Seperti bulan yang menunggu matahari, aku menunggu pujaanku. Dan Seperti bulan, Aku tahu ini adalah sebuah kesiaan.
Tapi aku bisa sombong, aku lebih baik daripada bulan. Karena aku membiarkan matahari tahu aku menunggunya.
Jingga

Diposkan pada Resensi, sinopsis

Ulasan novel Ny. Talis (Kisah Mengenai Madras) Karya Budi Darma

Judul               : Ny. Talis (Kisah Mengenai Madras)

Pengarang       : Budi Darma

Tahun terbit    : 1996

Penerbit           : PT Grasindo, Jakarta     

            Bercerita mengenai seorang laki-laki bernama Madras. Laki-laki ini mudah sekali jatuh cinta kepada wanita yang ditemuinya apabila terlihat menarik. Meski demikian, ia tetap bisa mendapatkan wanita-wanita tersebut karena persona Madras yang kuat. Dalam novel dikisahkan tiga wanita dalam hidupnya yang selalu tergiang di otaknya. Ny. Talis seorang perempuan bersuami yang bekerja sebagai perias handal. Wiwin, pelukis handal dan sangat pintar bermusik. Dan yang terakhir Santi Wedanti seorang penyanyi ternama yang namanya sedang hangat diperbincangkan. Pilihan terakhir Madras jatuh kepada Santi Wedanti yang dijadikannya istrinya. Meskipun sebenarnya ia mengakui, cinta sejatinya adalah Wiwin. Hanya saja nasib tak bisa menyatukan mereka karena Wiwin mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Diakhir cerita Ny. Talis, Santi Wedanti, dan Madras masih saling terkait dengan adanya anak-anak mereka yang memiliki hubungan dekat pula. Seperti sebuah takdir yang telah ditulis dengan sangat baik oleh Tuhan. Cerita ditutup dengan Madras dan Santi Wedanti yang tua tidur pada ranjang mereka dengan tenang lalu mereka pergi ke atas untuk selama-lamanya.

            Cerita ini cocok dibaca oleh Mahasiswa-mahasiswa diwaktu luang sebagai tujuan menghibur saja. Tetapi novel ini belum layak dimasukkan ke kategori novel-novel serius karena cenderung menggunakan imajinasi-imajinasi yang berlebihan pada tokoh-tokohnya. Tokoh-tokoh dihidupkan sebagai sesosok manusia yang sempurna bahkan terlalu sempurna. Kehidupan disekitar tokoh dikelilingi dengan kesempurnaan tokoh-tokoh yang pintar. Penggambaran tokoh yang berlebihan membuat cerita menjadi tidak masuk akal dan menimbulkan pertentangan pada otak pembaca. Jalan hidup tokoh digambarkan terlalu mudah dan tak ada konflik sama sekali. Seakan memang cerita sengaja dibuat oleh seseorang yang menginginkan kemudahan hidup tanpa ada masalah dan beban. Sehingga hanya bisa disebut sebuah cerita. Tidak nyata. Tidak bisa membangunkan imajinasi yang liar pada pembaca. Novel ini membuat pemikiran seseorang menjadi sempit, hanya berfikir secara pragmatis saja. Pada akhir cerita, ketidakmasukakalan semakin terlihat dengan meninggalnya Madras dan istrinya, Snti Wedanti pada sebuah ranjang turun menurun dari ibu Madras.

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Diposkan pada Puisi

Sebuah Mimpi Yang Tersangkut Ranting Lapuk

Ketika lakon otak berpadu imaji dalam hati
Ketika itu bayang kenang begitu murah
Hingga rindu sebegitu mudah
Ketika tetesan embun, lalu ranting dedaunan menolak berikan sedikit sari ke bawah
Tenggorokan membelenggu pita-pita suara
Ketika itu tiba-tiba pena berlagak malu
Tetapi tangan tak lagi bisa sembunyi dari meja-meja penuh coretan
Mimpi-mimpi dengan wujud apel tapi beracun
Tak apa asal pelampiasan jampian kata terlampiaskan

Jingga

Gambar : http://www.google.com/pulsk

Diposkan pada Prosa, sinopsis

Sinopsis Roman Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer

Judul                     : Bumi Manusia

Penggarang        : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit              : Lentera Dipantara

Tokoh                   :

  1. Minke – anak seorang bupati yang bersekolah di H.B.S. memiliki idealisme tinggi. Berpandangan ke arah barat. Pintar menulis, dengan banyak diterbitkan tulisannya di koran.
  2. Annelise – anak seorang Nyai (seorang wanita jawa yang diperistri oleh belanda). Gadis yang sangat cantik dan pintar membantu ibunya mengurus perusahaan yang besar.
  3. Nyai Ontosuroh – ibu Annelise. Wanita pribumi yang membenci orang tuanya karena telah menjualnya kepada belanda. Pintar dan berpengetahuan luas. Ia mendapat banyak pengetahuan dari suaminya. Mengurus perusaahaan besar seorang diri dibantu anak perempuannya.
  4. Tuan Mallema – ayah Annelise. Orang belanda yang baik sebelumnya. Lalu menjadi jarang pulang kerumah karena terjerat oleh perumahan pelacuran oleh seseorang dan ia tidak bisa melepaskan kebiasaannya.
  5. Jean Marais – seorang pelukis asal prancis, teman Minke. Ia dulu mengikuti pasukan untuk menyerang aceh. Tetapi saat perang kecelakaan sehingga kehilangan satu kaki. Menikah dengan pribumi dan memiliki anak bernama May.
  6. Robert Mallema – anak pertama Nyai Ontosuroh dan Tuan Mallema. Benci pribumi. Jatuh ke rumah pelacuran juga seperti ayahnya.
  7. Dll

Plot                        : menceritakan Minke, seorang anak bupati asli pribumi yang sekolah di H.B.S. suatu hari dia diajak oleh sahabatnya, Robert Surhoff ke kediaman Robert Mallema. Di sana ia bertemu Nyai Ontosuroh dan Annelise yang cantik tiada taranya. Aneelise dan minke saling jatuh cinta. Kebimbangan terjadi, minke bimbang karena annelise adalah anak seorang Nyai. Budak tuan Mallema. Tapi cinta Minke ke annelise lebih besar dari hanya sekadar pendapat orang lain. Menikahlah mereka secara islam. Tuan Mallema yang sering ke rumah pelacuran Babah Ah Jong meninggal disana. Setelah meninggal, anak dan istri tuan Mallema yang syah yang ada di Eropa membawa Annelise ke Eropa setelah putusan pengadilan. Menyisakan minke dan Nyai Ontosuroh sendirian di Wonokromo, Surabaya.

Diposkan pada Tak Berkategori

Bincang Sore bersama Sapardi Djoko Damono

Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput. Nanti dulu, biarkan aku sejenak berbaring di sini. Ada yang masih ingin ku pandang. Yang selama ini senantiasa luput. Sesaat adalah abadi. Sebelum kau sapu taman setiap pagi.

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Diposkan pada catatan, Prosa, Resensi

Analisis Naskah Drama 3 Babak Masyitoh Karya Ajib Rosidi Menggunakan Pendekatan Objektif Abrams

  • Pendekatan objektif oleh Abrams adalah pengkajian suatu karya sastra berdasarkan unsur-unsur pembentuk karya sastra itu sendiri. Dalam analisis drama ini, pendekatan objektif memfokuskan pada naskah drama tanpa memandang siapakah pengarangnya.
  • Menurut Robert Stanton dalam karya sastra terdapat tiga unsur pembentuk, yaitu

Lanjutkan membaca “Analisis Naskah Drama 3 Babak Masyitoh Karya Ajib Rosidi Menggunakan Pendekatan Objektif Abrams”

Diposkan pada Resensi, sinopsis

Resensi Novel Orang Orang Proyek Karya Ahmad Tohari

Judul                     : Orang Orang Proyek

Penulis                 : Ahmad Tohari

Penerbit              : Mahatari

  • (Perum Pemda Satuan Indah No. 9, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta 55281)

Tahun Terbit      : Cetakan Pertama, Juni 2004

Tokoh                   :

  1. Kabul – seorang insinyur teknik yang menangani proyek pembangunan jembatan di Cibawor. Mantan aktivis kampus. Teman kepala desa Cibawor semasa kuliah.
  2. Pak Tarya – penduduk asli desa Cibawor. Mantan pegawai negeri dan penulis sebuah majalah di Jakarta. Hari-harinya diisi dengan kegiatan memancing, main suling, dan Orang pintar yang memilih hidup tanpa beban.
  3. Basar – kepala desa desa Cibawor. Mantan aktivis kampus bersam dengan Kabul. Merasa menyesal menjadi bagian GLM. Berusaha sebaik mungkin menyejahterakan desanya dengan hambatan-hambatanpenguasa yang korup.
  4. Wati – perempuan satu-satunya yang kerja di proyek. Menyukai Kabul.
  5. Dalkijo – pemimpin proyek jembatan di Cibawor. Hidup pragmatis dan suka foya-foya. Tidak memperdulikan rakyat kecil asal dia bisa untung.
  6. Mak Sumeh – pemilik warung tegal di proyek. Makcomblang antara Wati dan Kabul.
  7. Dll

‘’ORANG ORANG PROYEK’’ menceritakan kisah Kabul, seorang insinyur teknik yang menangani sebuah proyek pembangunan jembatan di Desa Cibawor.  Kabul yang dulunya seorang aktivis kampus, hati nuraninya terusik melihat bagaimana permainan politik yang terjadi untuk membangun sebuah jembatan untuk rakyat. Proyek yang didanai dari utang luar negeri yang pasti rakyat yang menanggung beban biaya nantinya dijadikan bancaan oleh sebuah partai politik tersebut GLM (Golongan Lestari Menang).  Partai politik ini adalah partai politik paling berpengaruh di masa Orde Baru. Korupsi merajalela tanpa memperdulikan rakyat lagi. Diperparah rakyat yang tak mengerti hak-hak politik mereka serasa dibuai dengan kebahagiaan semu belaka. Indonesia yang katanya negara merdeka yang telah republik kenyataanya masih menanmkan sikap feodalisme di sistem pemerintahannya. Anggaran jembatan yang sudah dikuras lebih dari tigapuluh persen, masih saja diotak-atik lagi dananya untuk keperluan lain-lain. Misalnya, kader partai GLM yang meminta Kabul menyumbangkan bahan-bahan pembuat jembatan guna membangun sebuah masjid sebelum diadakannya kampanye oleh partai GLM di Desa Cibawor. Belum lagi, partai GLM mendesak agar jembatan jadi sebelum kampanye partai tersebut diadakan di Desa Cibawor. Hal ini disebabkan ”dari atas” yang menandatangani surat peminjaman dana luar negeri  untuk pembangunan jembatan tersebut merupakan kader partai GLM.  Beban psikologis yang ditanggung Kabul tak dapat lagi terbendung dan akhirnya iapun memutuskan keluar dari proyek tersebut. Meskipun ia tak yakin apa yang akan dikerjakan olehnya setelah keluar dari proyek tersebut. Disisi lain, dalam novel diceritakan kisah cinta menarik antara Wati dan Kabul. Kabul yang sebelumnya biasa saja terhadap Wati mendadak merasakan sesuatu setelah Wati menyiapkan perlengkapan sholat jumat untuk Kabul. Ditambah lagi usaha Mak Sumeh, seorang pemilik warung tegal di proyeknya untuk mendekatkan Kabul dengan Wati. Wati yang sebenarnya sudah mempunyai pacar, akhirnya putus dengan pacarnya yang seorang mahasiswa semester 5 dikampusnya. Kabul dan Wati resmi berpacaran dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Diakhir cerita, Kabul melewati desa Cibawor bersama istrinya, Wati. Ia melihat plang bahwa jembatan sedang rusak. Ia menghentikan mobil dan melihat apa yang terjadi pada jembatan tersebut. Tentu saja jembatan bancaan itu cepat rusak bahkan hanya setelah setahun setelah pembangunan karena pembuatannya yang asal-asalan. Dia menceritakan sebuah kisah kepada Wati, suatu saat di surga dan neraka ada sebuah pembatas dan Tuhan meminta penghuni surga dan neraka membangun jembatan pembatas. Dan penghuni neraka berhasil menyelesaikan jembatan tersebut lebih dulu. Usut diusut ternyata penghuni neraka banyak yang dari orang-orang proyek. Disusul suara tawa dari Kabul dan Wati. Jadi pada intinya ‘’Orang Orang Proyek’’ tersebut sudah paham apa yang dilakukan mereka adalah perbuatan dosa, tetapi mereka tidak peduli lagi. Sekarang Kabul mendapatkan proyek dari sebuah perusahaan swasta untuk membangun hotel. Novel yang sangat cocok dibaca oleh pemuda pemudi Indonesia. Menguak pemerintahan rezim Orde Baru yang syarat akan kekorupannya. Novel ini mengusik nurani, mengubah arah pandangan bangsa Indonesia.

Diposkan pada catatan, Puisi

Pagi di Kereta

Kali ini ingin menulis sedikit mengenai pagi di kereta

tetapi yang tercoret hanyalah bintang

satu, bukan, dua, bukan

7 bintang pada kertasku

ditambah satu gambar wajah pria asing berkumis yang lumayan kurasa

tapi benar, tadi pagi aku berada di kereta arah Semarang

Jingga